BucuKito
GRAFITACI 2026: Ketika Internasionalisasi Kampus Harus Berdampak bagi Masyarakat
PALEMBANG, WongKito.co — Bendera dari berbagai negara tampil di layar Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang Kampus B Jakabaring, lantai 4. Pagi itu, Selasa (29/9/2026) mahasiswa dari berbagai negara duduk dalam satu ruang, membawa bahasa, pengalaman, dan latar budaya yang berbeda.
Namun, perbedaan itu justru menjadi titik temu. Melalui Global and Local/Glocal Raden Fatah University Festival on Academic and Culture Internationalization (GRAFITACI 2026), UIN Raden Fatah Palembang membuka ruang untuk mempertemukan akademik, budaya, dan gagasan tentang bagaimana sebuah perguruan tinggi dapat membangun jejaring global tanpa kehilangan akar lokalnya.
Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Muhammad Adil, M.A.
Suasana semakin hangat ketika acara diawali dengan Tari Tepak Keraton. Tarian tersebut menjadi simbol penyambutan dan keramahan kepada para tamu. Tradisi penyajian kopi atau Upacara Jabana dari Sudan turut diperkenalkan, disusul lantunan lagu dari mahasiswa asal Malaysia.
Baca Juga:
- Mengintip Gemerlap Pembukaan PKM IV PTKIN se-Sumatera
- Indeks Kualitas Udara Palembang Sangat Berbahaya, Sekolah Kembali Terapkan PJJ
- Kabut Asap Palembang bikin Perih Mata dan Hidung
Di tengah keberagaman peserta, muncul satu pertanyaan sederhana yang kemudian menjadi bagian penting dalam diskusi:
“Apa dampak ketika perguruan tinggi kita terlibat secara global?”
Pertanyaan tersebut menggeser cara pandang tentang internasionalisasi perguruan tinggi.
Internasionalisasi selama ini kerap dikaitkan dengan jumlah kerja sama, program internasional, pertukaran mahasiswa, atau banyaknya dokumen penandatangan nota kesepahaman (MoU).
Namun, GRAFITACI 2026 membawa pesan yang lebih jauh.
Kerja sama internasional seharusnya tidak berhenti pada tanda tangan di atas dokumen. Ia harus menghasilkan proses belajar, pertukaran pengetahuan, perubahan di dalam institusi, hingga manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Gagasan itu disampaikan Dr. Kasno Pamungkas, S.S., M.Hum, lulusan Universitas Padjadjaran dan Staf Khusus Kantor Urusan Internasional Unpad sejak 2017 hingga saat ini.
Menurut Kasno, ukuran keberhasilan internasionalisasi bukan semata-mata berapa banyak kerja sama yang dimiliki sebuah perguruan tinggi.
“Internasionalisasi tidak lagi sekadar soal MoU, pengiriman mahasiswa ke luar negeri, atau peningkatan jumlah program internasional. Hal ini mencakup upaya membangun hubungan yang bermakna, pembelajaran timbal balik, transformasi kelembagaan, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat," kata dia.
Pesan tersebut menjadi penting karena sebuah kerja sama baru memiliki makna ketika menghasilkan sesuatu setelah dokumen ditandatangani.
Belajar tidak Harus Satu Arah
Salah satu gagasan yang juga mengemuka adalah tentang global learning atau pembelajaran global.
Internasionalisasi bukan tentang satu pihak yang datang untuk mengajari pihak lain.
Sebaliknya, setiap perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dapat dipelajari bersama.
Menurut dia, perguruan tinggi di Indonesia dapat belajar dari pengalaman universitas di negara lain. Di saat yang sama, pengalaman lokal Indonesia juga dapat menjadi sumber pengetahuan bagi mitra internasional.
Dengan cara itu, internasionalisasi tidak membuat kampus kehilangan identitas lokalnya.
Justru sebaliknya, pengalaman lokal dapat dibawa ke ruang global.
Dari Kampus untuk Masyarakat
Contoh mengenai program Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi salah satu gambaran bahwa kerja sama internasional dapat diterjemahkan ke dalam kegiatan yang lebih konkret.
Keberhasilan sebuah program tidak cukup diukur dari berapa mahasiswa yang berangkat ke luar negeri atau berapa institusi yang menandatangani kerja sama.
Merayakan Perbedaan, Membangun Kolaborasi
Di GRAFITACI 2026, perbedaan negara dan budaya tidak menjadi batas.
Mahasiswa dari berbagai latar belakang bertemu, berbicara, bertukar pengalaman, dan belajar satu sama lain. Ada bahasa dan tradisi yang berbeda. Ada pengalaman yang berbeda. Tetapi semuanya bertemu dalam satu ruang akademik.
Dari ruang itulah jejaring baru dapat tumbuh. Kolaborasi baru dapat dimulai.
Baca Juga:
- HuMa Indonesia: Dorong Pengakuan atas Hukum yang Hidup di Masyarakat
- Antara Setoran dan Harapan, Sopir Angkot Terus Bertahan
- Dukung Pengembangan Ekosistem Kelapa Sumsel, dari Hulu ke Hilir
Dan gagasan yang awalnya hanya berupa percakapan dapat berkembang menjadi kegiatan yang memiliki dampak lebih luas.
GRAFITACI 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang seberapa global sebuah perguruan tinggi.
Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak melihat kembali makna internasionalisasi, sejauh mana hubungan global mampu memperkaya pembelajaran, memperkuat institusi, menghargai keberagaman, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Karena internasionalisasi yang sesungguhnya bukan sekadar tentang siapa yang datang dan siapa yang pergi.
Tetapi tentang apa yang dipelajari, apa yang dibagikan, apa yang berubah, dan apa yang dapat diberikan kembali kepada masyarakat.(*Selsa Billa)
*Mahasiswi Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024

